Kepulauan Riau memiliki banyak potensi pertanian, namun belum dioptimalkan sepenuhnya. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan lahan pertanian, emerge sebuah nama yang mampu membawa perubahan besar dalam dunia pertanian organik di Batam, yaitu Dina Susanti dan usaha mereka, Susanti Batam Farm. Kisah mereka menjadi inspirasi banyak kalangan, terutama kaum muda dan ibu rumah tangga yang ingin berkontribusi di bidang pertanian.
Dina Susanti lahir dan besar di Batam, Kepulauan Riau. Latar belakang keluarganya bukan dari kalangan petani, namun ia memiliki semangat untuk mencoba sesuatu yang baru, terutama di bidang pertanian. Tahun 2016 menjadi titik balik dalam hidupnya. Dina melihat kebutuhan akan sayuran sehat di Batam semakin meningkat, terutama dengan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya produk organik.
Dengan modal pengetahuan dari berbagai seminar dan pelatihan pertanian, ia mulai merintis usaha kecil menanam sayuran organik di halaman rumahnya. Awalnya, hasil tanamannya hanya untuk konsumsi keluarga. Namun, karena kualitas dan kesegaran produknya, tetangga dan teman-teman mulai meminta untuk membeli. Dari sinilah Dina melihat peluang besar untuk membangun usaha pertanian organik yang lebih luas.
Susanti Batam Farm didirikan oleh Dina Susanti pada tahun 2017. Berbekal modal sekitar Rp 20 juta yang dikumpulkan dari tabungan pribadi dan pinjaman keluarga, Dina mulai memperluas lahan tanam di kawasan Baloi, Batam. Ia memilih sistem pertanian organik karena ingin menghadirkan produk yang sehat dan ramah lingkungan.
Di awal perjalanan Susanti Batam Farm, tantangan terbesar yang dihadapi adalah kurangnya lahan subur dan keterbatasan akses teknologi pertanian. Namun, Dina tidak menyerah. Ia aktif berkomunitas dengan petani lokal, mengikuti pelatihan dan membuka koneksi dengan para ahli pertanian. Berkat kegigihannya, ia berhasil menemukan solusi seperti menggunakan media tanam hidroponik dan teknik polybag.
Dina Susanti menyadari bahwa untuk bisa bersaing dengan produk pertanian dari kota besar, Susanti Batam Farm harus terus berinovasi. Ia mulai menerapkan sistem hidroponik untuk menanam sayuran seperti selada, bayam, kangkung, dan pakcoy. Selain itu, Dina juga memanfaatkan sistem pertanian vertikal agar mampu memaksimalkan pemanfaatan lahan terbatas di Batam.
Tidak hanya fokus pada produksi, Dina juga mengembangkan bisnisnya dengan membangun komunitas konsumen loyal. Ia rutin mengadakan edukasi mengenai pertanian organik, baik secara langsung di farm maupun melalui media sosial. Hasilnya, permintaan produk organik Susanti Batam Farm semakin meningkat tidak hanya dari Batam, tapi juga dari Tanjung Pinang, Bintan, dan bahkan Jakarta.
Salah satu kekuatan utama Susanti Batam Farm adalah komitmen dalam memberdayakan masyarakat sekitar. Dina Susanti melibatkan ibu rumah tangga dan pemuda untuk menjadi bagian dalam proses produksi. Mereka mendapatkan pelatihan berkala tentang teknik pertanian organik dan cara pemasaran produk.
Hingga tahun 2023, Susanti Batam Farm telah mempekerjakan lebih dari 28 orang. Selain memberikan lapangan kerja, farm ini juga menyediakan program beasiswa pelatihan untuk anak-anak petani muda yang ingin belajar pertanian organik. Dengan model pendidikan seperti ini, Susanti Batam Farm sukses menjadi motor penggerak pertanian organik di Kepulauan Riau.
Berkat kegigihan dan inovasi yang konsisten, Dina Susanti telah meraih berbagai penghargaan lokal maupun nasional. Pada tahun 2022, Susanti Batam Farm menerima penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sebagai "Usaha Pertanian Mandiri Berprestasi". Tidak hanya itu, Dina juga menjadi salah satu finalis kompetisi wirausaha perempuan tingkat nasional yang diadakan oleh sebuah yayasan besar.
Penghargaan tersebut makin memotivasi Dina Susanti untuk terus mengembangkan farm-nya. Ia mulai mengekspor sayuran organik ke Singapura dan Malaysia melalui kerjasama dengan eksportir lokal. Meski proses ekspor masih terbatas, langkah ini menunjukkan komitmen Susanti Batam Farm dalam menghadirkan produk lokal ke pasar global.
Dina Susanti sangat menyadari bahwa tantangan pertanian di Kepulauan Riau masih cukup banyak, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan sumber air, hingga persaingan dengan produk impor. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Dina terus memperdalam ilmu tentang sustainability dan mencari solusi lokal seperti pemanfaatan limbah organik untuk pupuk serta teknologi monitoring kualitas air dan tanah.
Selain itu, Dina juga mulai menjalin kerjasama dengan universitas lokal untuk melakukan riset pengembangan varietas sayuran yang lebih adaptif terhadap iklim Kepulauan Riau. Dengan visi yang kuat, Dina yakin bahwa farm-nya akan terus tumbuh dan menjadi pionir pertanian organik di wilayah kepulauan.
Kisah Dina Susanti dan Susanti Batam Farm membuktikan bahwa perempuan dan generasi muda mampu berkontribusi besar di bidang pertanian. Dina berpesan bahwa kunci utama adalah keberanian untuk mencoba, tekad keras, dan semangat belajar yang tak pernah padam. Ia berharap semakin banyak anak muda di Kepulauan Riau yang mau terjun ke dunia pertanian.
Melalui program sharing knowledge, Dina rutin mengadakan seminar dan pelatihan gratis untuk para mahasiswa dan pelaku usaha kecil di Batam. Ia ingin agar ke depannya, pertanian organik bisa menjadi pilihan utama masyarakat untuk mendapatkan pangan sehat dan sekaligus membuka lapangan kerja yang luas.
Susanti Batam Farm bukan sekadar usaha pertanian, melainkan sebuah gerakan untuk menghadirkan pertanian organik yang sehat dan berdaya saing di Kepulauan Riau. Dina Susanti membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi dan berjuang. Melalui inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan tekad yang kuat, ia telah menciptakan perubahan nyata.
Kisah sukses Dina Susanti dan Susanti Batam Farm di Kepulauan Riau kini menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama dalam memajukan pertanian lokal serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Semoga semangat Dina bisa terus menyebar dan membawa manfaat luas bagi generasi berikutnya.