Kepulauan Riau dikenal sebagai kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, namun tidak banyak yang tahu bahwa ada kisah inspiratif dari dua sosok wanita di balik kesuksesan salah satu usaha peternakan modern — Syifa Susanti dan Susanti Batam Farm. Kisah mereka menjadi teladan bagaimana inovasi, kerja keras, dan keuletan dapat mengubah tantangan menjadi peluang emas. Perjalanan mereka dimulai dari tekad sederhana: menciptakan usaha agrikultur yang mampu bersaing secara nasional sekaligus memajukan masyarakat lokal.
Syifa Susanti, seorang wanita muda asal Batam, memiliki latar belakang pendidikan agribisnis. Setelah selesai kuliah, Syifa melihat peluang di sektor peternakan yang belum banyak digarap di Kepulauan Riau. Awalnya ia hanya memulai dengan beberapa ekor ayam dan kambing, namun tekadnya untuk maju membuatnya berani mengambil langkah-langkah besar.
Tahun 2015 menjadi titik awal ketika Syifa bersama rekannya membentuk Batam Farm. Mereka menghadapi berbagai hambatan, mulai dari modal, pengetahuan teknis, hingga pemasaran produk. Namun, Syifa tidak menyerah. Ia rajin mengikuti pelatihan, mempelajari teknologi peternakan modern, dan memperluas jaringan dengan peternak lain dari berbagai daerah.
Batam Farm didirikan dengan visi menjadi peternakan unggulan di Kepulauan Riau. Usaha ini bukan hanya sebatas produksi daging, telur, atau susu, namun mengedepankan prinsip-prinsip ramah lingkungan. Syifa dan Susanti berinovasi dengan sistem kandang terbuka yang menjaga kesejahteraan hewan, serta memanfaatkan teknologi pakan organik yang mereka produksi sendiri.
Selain itu, mereka juga menerapkan sistem pengolahan limbah peternakan menjadi kompos yang sangat berguna untuk perkebunan sekitar. Hal ini membuat Batam Farm menjadi pelopor peternakan modern yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan di Batam dan Kepulauan Riau.
Susanti merupakan rekan Syifa yang memiliki keahlian di bidang manajemen bisnis. Berkat tangan dinginnya, Batam Farm berkembang pesat. Susanti memaksimalkan potensi team work, sistem pemasaran digital, dan mengelola keuangan dengan sangat transparan. Ia dikenal sebagai motivator yang mampu memotivasi tim untuk selalu berinovasi dan menjaga kualitas produk.
Keberhasilan Batam Farm tidak hanya terlihat dari peningkatan omzet, tetapi juga dari rendahnya tingkat keluar-masuk karyawan, karena Susanti selalu menekankan pentingnya kerjasama tim dan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi.
Di balik sukses Batam Farm, tentu saja ada berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari faktor cuaca, harga pakan yang fluktuatif, hingga persaingan dengan produk impor. Syifa dan Susanti memilih jalan inovasi dan edukasi kepada masyarakat, misalnya dengan program pembinaan peternak lokal agar mampu menghasilkan produk berkualitas.
Salah satu langkah strategis yang mereka lakukan adalah kolaborasi dengan universitas dan instansi pemerintah. Mereka membuka pintu untuk riset bersama, magang mahasiswa, dan turut serta dalam kampanye pemenuhan protein lokal. Hal ini bukan saja meningkatkan kualitas Batam Farm, tetapi juga memperkuat posisi mereka dalam ekosistem peternakan di Kepulauan Riau.
Saat ini, Batam Farm telah menjadi salah satu peternakan terbesar di Kepulauan Riau, dengan produk utama berupa daging ayam, telur, dan susu kambing. Selain itu, Batam Farm sukses memberdayakan masyarakat sekitar dengan membuka berbagai lapangan pekerjaan dan pelatihan peternakan modern.
Batam Farm tidak hanya berfokus pada bisnis, melainkan juga aktif dalam kegiatan sosial, seperti memberikan beasiswa untuk anak-anak peternak, program pengentasan kemiskinan, dan edukasi mengenai pola hidup sehat.
Kesuksesan Batam Farm lahir dari sinergi dua karakter: Syifa yang visioner dan Susanti yang detail dalam manajemen. Mereka menjalankan usaha dengan prinsip transparansi, inovasi, dan keberlanjutan. Kunci utama adalah keinginan kuat untuk terus belajar, beradaptasi dengan teknologi, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Didorong oleh nilai-nilai kerja keras, ketulusan, dan pemikiran jangka panjang, Syifa dan Susanti berhasil mengubah peternakan tradisional menjadi bisnis modern yang menjadi contoh bagi banyak pelaku usaha di Kepulauan Riau dan Indonesia.
Berkat inovasi dan dampak sosial yang mereka ciptakan, Batam Farm telah menerima berbagai penghargaan. Di antaranya adalah penghargaan dari Gubernur Kepulauan Riau untuk kategori Usaha Agrikultur Inovatif, serta beberapa sertifikat halal dan keamanan pangan yang membuat produk Batam Farm semakin dipercaya masyarakat.
Syifa Susanti juga sering diundang sebagai pembicara di seminar agribisnis, membagikan pengalaman dan inspirasi bagi generasi muda untuk berani berwirausaha di bidang peternakan.
Syifa dan Susanti berkomitmen untuk terus mengembangkan Batam Farm. Mereka bermimpi menjadikan Batam Farm sebagai pusat riset peternakan tropis yang tidak hanya menghasilkan produk unggulan, tetapi juga menjadi tempat belajar bagi peternak dan mahasiswa agrikultur.
Dengan strategi ekspansi pasar, diversifikasi produk, dan peningkatan kualitas, Batam Farm yakin dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian Kepulauan Riau dan memperkuat ketahanan pangan nasional Indonesia.
Kisah Syifa Susanti dan Susanti Batam Farm adalah bukti nyata bahwa perempuan dan generasi muda mampu menorehkan prestasi di sektor yang sering dianggap kurang menarik. Mereka membuktikan bahwa dengan semangat, inovasi, dan komitmen, usaha kecil bisa berkembang menjadi bisnis yang bermanfaat bagi banyak orang.